peran apoteker di masyarakat

Apoteker memiliki peran utama dalam upaya meningkatkan keselamatan serta efektifitas penggunaan obat. Tanggung jawab apoteker terhadap keselamatan pasien memiliki misi untuk memastikan bahwa semua pasien mendapatkan pengobatan yang optimal. Keberadaan Apoteker telah dikuatkan melalui berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kontribusi Apoteker dapat menurunkan kesalahan dalam pengobatan (medication errors).

Seorang Apoteker yang berperan dalam pelayan kefarmasian di apotek, puskesmas, instalasi farmasi rumah sakit, dan sarana pelayanan farmasi lainnya harus mampu  mengelola dengan baik setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban untuk mengatasi dan mencegah masalah terkait obat.

Keselamatan pasien dalam pelayanan kefarmasian

Untuk menerapkan keselamatan pasien dalam pelayanan kefarmasian, ada beberapa bentuk pencegahan masalah yang bisa timbul akibat kelalaian tenaga kesehatan. Pengendalian masalah tersebut tidak lain untuk tujuan bagaimana agar setiap pasien yang dirawat, ditangani dan diberi tindakan medis terjamin keselamatan dan terpenuhi pengobatan terkait penyakitnya.

Apoteker harus mampu mengenali, menganalisa, menangani, dan mencegah masalah yang bisa timbul dan mengancam keselamatan pasien sebagai berikut:

  • Kejadian Tidak Diharapkan/KTD (Adverse Event)
  • Kejadian Nyaris Cedera/KNC (Near miss)
  • Kejadan Sentinel
  • Adverse Drug Event
  • Adverse Drug Reaction
  • Medication Error
  • Efek samping obat

Peran Apoteker dalam Mewujudkan Keselamatan Pasien

Dalam mewujudkan pengobatan yang rasional, keselamatan pasien menjadi bagian yang sangat perlu di perhatikan. Pada prakteknya sejumlah pasien mengalami cedera atau mengalami insiden yang tidak diinginkan saat memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait penggunaan obat. Istilah ini dikenal dengan nama medication error.

Di negara-negara maju sudah ada apoteker dengan spesialisasi khusus yang menangani permasalahan medication safety. Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek manajemen dan aspek klinik.

BACA:  Petunjuk Minum Obat untuk Pasien Agar Cepat Sembuh

Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi, pengadaan, penerimaan,penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian (misalnya memanfaatkan IT).

Sedangkan aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep atau bebas), penyiapan obat dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat, konseling, monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi.

Keterlibatan apoteker dalam tim pelayanan kesehatan perlu didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik terbukti memiliki konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan. Apoteker harus berperan di semua tahapan proses yang meliputi:

1. Pemilihan

Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obatobat sesuai formularium.

2. Pengadaan

Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan sesuai peraturan yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.

3. Penyimpanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan pengambilan obat dan menjamin mutu obat:

  • Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication names) secara terpisah.
  • Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan cedera jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya  (1) menyimpan cairan elektrolit pekat seperti KCl inj, heparin, warfarin, insulin, kemoterapi, narkotik opiat, neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan agonis adrenergik. (2) Kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara alfabetis, tetapi tempatkan secara terpisah
  • Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.

4. Skrining Resep

Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya medication error melalui kolaborasi dengan dokter dan pasien.

  • Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam medik/ nomor resep,
  • Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan interpretasi resep dokter. Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi dokter penulis resep.
  • Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting dalam pengambilan keputusan pemberian obat, seperti : Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data klinis (alergi, diagnosis dan hamil/menyusui), hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium, tanda-tanda vital dan parameter lainnya), riwayat/catatan pengobatan pasien.
BACA:  Jangan Asal Coba, 8 Obat Berbahaya Diminum Saat Bekerja

5. Dispensing

Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP. Pemberian etiket yang tepat. Etiket harus dibaca minimum tiga kali : pada saat pengambilan obat dari rak, pada saat mengambil obat dari wadah, pada saat mengembalikan obat ke rak.

6. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal yang penting tentang obat dan pengobatannya. Hal-hal yang harus diinformasikan dan didiskusikan pada pasien adalah :

  • Pemahaman yang jelas mengenaiindikasi penggunaan dan bagaimana menggunakan obat dengan benar, harapan setelah menggunakan obat, lama pengobatan, kapan harus kembali ke dokter
  • Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan
  • Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat dengan obat lain dan makanan harus dijelaskan kepada pasien
  • Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction – ADR) yang mengakibatkan cedera pasien, pasien harus mendapat edukasi mengenai bagaimana cara mengatasi kemungkinan terjadinya ADR tersebut.
  • Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk mengenali obat yang sudah rusak atau kadaluarsa.

7. Penggunaan Obat

Apoteker Indonesia harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah sakit dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan lain. Hal yang perlu diperhatikan adalah :

  • Tepat pasien
  • Tepat indikasi
  • Tepat waktu pemberian
  • Tepat obat
  • Tepat dosis
  • Tepat label obat (aturan pakai)
  • Tepat rute pemberian

8. Monitoring dan Evaluasi

Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi, mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah pengulangan kesalahan.

Seluruh personal yang ada di tempat pelayanan kefarmasian harus terlibat didalam program keselamatan pasien khususnya medication safety dan harus secara terus menerus mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan keselamatan pasien.

BACA:  Waktu Minum Obat Secara Tepat dan Benar

Untuk memperoleh secara lengkap buku pedoman tanggung jawab apoteker terhadap keselamatan pasien. Dapatkan bukunya Download Buku Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here