Data terbaru penggunaan antibiotik tidak tepat dirilis oleh Centers for Disease Control (CDC) menunjukkan bahwa 18,7% pasien dengan gonore atau kencing nanah tidak menerima rejimen pengobatan yang direkomendasikan oleh CDC.

Kurangnya perawatan yang tepat terutama berkaitan meningkatnya resistensi penyakit terhadap sebagian besar antibiotik yang digunakan untuk penyakit ini. Penekanan tersebut ditulis dalam artikel yang diterbitkan secara online Morbidity and Mortality Weekly Report..

Para penulis mencatat bahwa kencing nanah atau gonore adalah penyakit yang paling sering dilaporkan, dengan 468.514 kasus dilaporkan ke departemen kesehatan negara bagian dan lokal pada tahun 2016. Jumlah kasus menunjukkan peningkatan 18,5% dari tahun 2015.

Pengobatan rekomendasi untuk gonore

Tahun 2015 lalu, CDC mengeluarkan rekomendasi dua obat antibiotik yang tepat untuk mengobati kencing nanah. Ceftriaxone injeksi 250 gram (im) dengan tablet azitromycin 1 g (p.o). Menurutnya, rejimen pengobatan untuk gonore tersebut tidak rumit untuk memastikan pengobatan yang efektif dan resistensi berpotensi ditekan perkembangannya.

Namun berdasarkan hasil penelitiannya, Emily J. Weston, MPH, dari CDC Divisi STD Prevention, National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention, Atlanta, Georgia, dan rekan menemukan bahwa hanya 81,3% pasien yang menerima rejimen yang direkomendasikan untuk mengobati penyakit gonore.

Dari pengobatan diluar rejimen yang direkomendasikan tersebut, resep penyakit gonore yang paling sering adalah ceftriaxone 250 mg saja (5,9%), ceftriaxone dan doksisiklin (4,4%), dan azitromisin saja (3,1%).

Beberapa faktor dapat mempengaruhi apakah dokter mematuhi rejimen yang disarankan, diantaranya ketersediaan obat injeksi tersebut, atau terdapat laporan pasien memiliki riwayat alergi pada obat tadi.

“Departemen kesehatan lokal dan negara bagian harus memantau kepatuhan dengan rekomendasi di yurisdiksi mereka, dan mempertimbangkan penerapan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan dokter sebagai penulis resep dan pasien,” tulis para penulis.

BACA:  Penggunaan Klinis Obat Golongan Penisilin dan Efek Samping

Para peneliti menilai kepatuhan dengan rekomendasi CDC dengan memeriksa sampel acak di tujuh yurisdiksi yang berpartisipasi dalam Jaringan Pengawasan STD.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here