perbandingan obat generik vs paten

Bagi sebagian orang menganggap khasiat obat paten lebih bagus dibandingkan obat generik, namun benarkah demikian? tentu untuk menjawab hal ini dibutuhkan fakta ilmiah. Baca terus artikel ini untuk mengetahui perbandingan obat generik vs Paten, mna yang lebih baik dan berkhasiat.

Namun pada prakteknya, mindset masyarakat selalu menjadikan obat paten sebagai pilihan utama, meskipun banyak yang sulit membedakan mana obat paten, mana obat merek dagang. Padahal dalam pengobatan penyakit, obat generik adalah jenis obat prioritas sebelum beralih ke paten. Tentunya ini didukung banyak alasan yang bermanfaat untuk pasien.

Apa itu obat paten?

Ketika sebuah perusahaan farmasi pertama kali mengembangkan obat baru untuk digunakan dalam pengobatan penyakit, awalnya akan dijual dengan merek yang telah dipatenkan dan tidak dapat dibuat tiruannya sebelum masa paten berakhir. Sebab obat ini tercakup dalam perlindungan paten, yang berarti bahwa hanya perusahaan farmasi yang memegang hak paten diperbolehkan memproduksi dan memasarkan obat.

Sebagai contoh, obat Avelox dengan kandungan generik Moxifloxacin yang mulai disetujui peredarannya bulan Desember 1999 sebagai obat untuk pneumonia komunitas. Obat ini diedarkan tanpa produk tiruan sampai masa paten berakhir. Umumnya masa hak paten suatu obat berlangsung selama 20 tahun sejak diterbitkan hak paten tersebut. Dan hak ini tidak dapat diperpanjang kembali.

Ketika masa paten berakhir, perusahaan farmasi akan mulai merancang formulasi dengan kandungan utama moxifloxacin sebagai bentuk obat tiruan. dan saat ini obat mitu (me-too) Avelox muncul dengan nama Molcin sebagai merek dagang atau generik bermerek.

BACA:  Waktu Minum Obat Secara Tepat dan Benar

Dua obat tersebut masing-masing memiliki kandungan yakni moksifloksasin serta indikasi yang sama pula. Namun dari segi sifat fisika-kimia obat, keduanya memiliki perbedaan.

Apa itu obat generik?

Obat generik adalah jenis obat yang memiliki penamaan yang sama dengan kandungan zat aktif pada obat tersebut. Di indonesia, obat generik lebih dikenal dengan nama generik berlogo yang ditandai dengan logo generik pada label obat.

Untuk lebih memahami jenis obat generik, berikut ini contoh obat generik:

  • Amoxicillin dengan kandungan Amoxicillin
  • Paracetamol dengan kandungan yang sama
  • Moxifloxacin
  • Ciprofloxacin
  • dan sebagainya.

Obat generik bermerek

Selain obat generik dan paten, terdapat jenis obat yang disebut generik bermerek. Pada kebanyakan orang, mereka menganggap obat ini adalah obat paten. Padahal sebenarnya ini adalah obat generik yang diproduksi perusahaan farmasi dengan menggunakan penamaan lain.

Distribusi obat generik bermerek sangat luas di banyak negara, termasuk indonesia. Contoh obat generik bermerek yang sering kita temui adalah panadol (paracetamol), amoxsan (Amoxicillin), voltaren (natrium diclofenak), dan lain sebagainya.

Perbandingan obat paten vs generik dan obat generik bermerek

Untuk menilai mana lebih baik antara obat paten vs generik dan obat generik bermerek, tentu harus didukung dengan fakta ilmiah. Obat dapat dikatakan lebih baik dapat ditinjau dari banyak indikator termasuk harga obat.

obat generik vs paten
sumber: ePharmacy.co.ke

1. Pertimbangan berdasarkan harga

Harga jual suatu obat berbeda-beda meskipun memiliki kandungan yang sama serta khasiat yang sama pula. Obat original yang biasa dikenal sebagai obat paten memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan obat pesaingnya. Hal ini disebabkan karena banyak faktor, termasuk saat obat diteliti, diuji, sampai pada proses promosi.

Obat generik bermerek memiliki harga yang lebih murah daripada obat paten. Dan obat generik mempunyai harga yang lebih murah dibandingkan kedua jenis obat sebelumnya.

BACA:  Rute Pemberian Obat yang Lebih Baik dan Cepat

2. Pertimbangan berdasarkan kualitas obat

Sebelum obat diedarkan baik obat paten, generik, dan generik bermerek akan melalui segelumit proses terstandarisasi untuk menjamin keamanan dan khasiat obat. Pengujian kualitas obat umumnya dilakukan melalui pengujian bioavailabilitas dan bioequivalen (Ba-Be).

Antara masing-masing obat meskipun memiliki kandungan bahan aktif yang sama, namun kualitas dari setiap obat akan berbeda-beda. Obat paten adalah obat yang menjadi parameter dalam menentukan nilai Ba-Be.

Tahun 2005 Pedoman Uji Bioequivalensi diterbitkan Badan POM, sebuah standarisasi yang diberlakukan untuk industri farmasi yang memproduksi obat generik dan generik bermerek harus memenuhi standar nilai Ba-Be obat sebelum diedarkan.

Sehingga, berpedoman pada standarisasi yang diterapkan lebih 10 tahun yang lalu, maka kualitas obat yang beredar setidaknya sudah memenuhi nilai standar Ba-Be yang telah ditetapkan.

Kesimpulan

Untuk menentukan mana lebih baik antara obat generik, generik bermerek vs paten hendaknya dapat ditinjau berdasarkan banyak faktor. Dibandingkan obat paten, obat generik memiliki harga yang jauh lebih murah sehingga dapat mendukung terlaksananya pengobatan secara rasional.

Kualitas setiap obat masing-masing berbeda, dan setiap obat yang diedarkan sejak tahun 2005 akan melalui tahap pengujian Bioavailabilitas dan Bioequivalen dengan nilai yang sudah terstandarisasi. Tentunya obat-obat yang beredar baik itu obat generik maupun generik bermerek telah memenuhi syarat kualitas obat sebelum diedarkan.

Obat generik memiliki kualitas yang tidak kalah dengan obat paten. Selain itu, pertimbangan harga obat generik jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat generik bermerek dan obat paten.

Sehingga apoteker sebagai pioner dalam meningkatkan kualitas, keamanan dan efektifitas penggunaan obat dapat berperan dalam menangani masalah terkait penggunaan obat khususnya mendorong masyarakat sadar tentang obat generik.

BACA:  Bahaya Resistensi Antibiotik Akibat Asal Coba Obat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here