kriteria dan dampak penggunaan obat tidak rasional

Penggunaan obat rasional merupakan sasaran pencapaian pada setiap pelayanan kefarmasian baik di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun pengobatan di rumah (home care). Namun kesalahan pengobatan dapat diakui bahwa ini terjadi di bebagai fasilitas kesehatan di setiap negara termasuk indonesia.

Cakupan dari munculnya masalah penggunaan obat (pengobatan tidak rasional) dapat berupa: salah satu atau beberapa obat dalam resep tidak dibutuhkan, obat yang salah, obat tidak aman ataupun tidak efektif, penggunaan obat yang tidak benar oleh pasien, dan lainnya

Dalam praktek penggunaan obat dapat dikatakan irasional apabila risiko yang diterima pasien lebih besar daripada manfaat pengobatan. Risiko tersebut bisa berdampak pada kondisi klinis pasien yang memburuk, maupun kondisi ekonomi terpengaruhi.

Dampak negatif penggunaan obat tidak rasional

  • Kondisi klinis tidak mengalami perbaikan, dan malah memperburuk keadaan pasien seperti muncul efek samping, resistensi bakteri serta interaksi obat yang merugikan.
  • Berdampak pada kondisi ekonomi dengan peningkatan biaya pengobatan akibat jumlah obat yang berlebihan ataupun harga mahal, serta biaya perawatan yang meningkat.
  • Berdampak pada kondisi sosial akibat ketergantungan pasien terhadap intervensi obat
  • Terjadi peningkatan angka resisten terhadap bakteri pada penggunaan antibiotik

Kriteria penggunaan obat tidak rasional

Untuk memutuskan suatu pengobatan dikatakan irasional atau tidak, setiap tindakan pengobatan harus mengacu pada kriteria penggunaan obat tidak rasional berikut ini:

1. Peresepan berlebihan atau Over Prescribing

Berdasarkan hasil diagnosa penyakit dan diberikan obat melalui resep dokter agar pengobatan penyakit bisa ditangani. Namun banyak kasus terjadi peresepan obat berlebihan yang sebenarnya tidak dibutuhkan jika ditinjau dari kondisi penyakit pasien.

BACA:  Bahaya Resistensi Antibiotik Akibat Asal Coba Obat

2. Peresepan obat kurang

Penyakit yang diderita membutuhkan beberapa obat namun hasil peresepan memberikan obat kurang dari kebutuhan medis pasien. Cakupan kebutuhan obat tidak tercukupi dapat berupa dosis yang kurang, jumlah obat, lama pemberian, serta tidak diresepkannya obat yang dibutuhkan.

3. Peresepan majemuk

Dikatakan peresepan majemuk apabila terjadi pemberian obat lebih dari satu dengan indikasi yang sama terhadap penyakit yang diderita pasien. Jika ditinjau dari segi ilmu kefarmasian dan kedokteran, 2 obat indikasi yang sama dapat disembuhkan cukup dengan pemberian 1 obat saja.

4. Peresepan salah

Adanya pemberian obat tidak sesuai dengan indikasi penyakit, obat kontraindikasi dengan penyakit pasien, serta kemungkinan efek samping lebih besar dibandingkan efek terapi. Model peresepan obat seperti ini memberikan dampak negatif untuk kondisi pasien, bahkan dapat memperburuk keadaan.

Dalam praktek keseharian, penggunaan obat tidak rasional sangat sering ditemui dan tidak disadari oleh para praktisi medis. Apoteker sebagai spesialis obat hendaknya berperan aktif untuk meminimalkan kejadian penggunaan obat tidak rasional. Oleh sebab itu setiap tindakan pengobatan harus dilandaskan atas dasar ilmiah yang dapat diterima agar pengobatan secara rasional bisa tercapai.

Saya adalah bagian dari layanan Apoteker indonesia. Menjadi penulis di Apotekeranda.com adalah satu kebanggaan karena dapat menyebarkan informasi kesehatan kepada seluruh masyarakat indonesia. Jika anda memiliki pertanyaan seputar obat, silahkan cantumkan melalui komentar, atau masuk di halaman Konsultasi obat. kami senantiasa akan melayani anda sepenuh hati. Terhubung bersama saya dengan follow instagram @samerjalali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here