Penelitian terbaru obat hipertensi tertentu bisa tingkatkan kematian

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di banyak negara. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa dua kelas pengobatan yang umum digunakan untuk menurunkan tekanan darah dapat menimbulkan risiko kematian.

Dimuat melalui medicalnewstoday.com Dr. Brian Clements dan tim adalah ilmuwan di Intermountain Medical Center Heart Institute di Salt Lake City, USA menemukan bahwa individu dengan hipertensi yang menggunakan alfa blocker dan agonis alpha-2 untuk mengendalikan tekanan darah menunjukkan peningkatan variabilitas tekanan darah, yang dapat meningkatkan risiko kematian.

Batas Nilai Tekanan Darah Normal

Seseorang dianggap memiliki hipertensi jika tekanan darah sistoliknya 130 mmHg atau lebih tinggi, dan tekanan darah diastolik mereka 80 mmHg atau lebih tinggi. Tekanan darah sistolik adalah kekuatan darah terhadap dinding arteri saat jantung berdetak, sedangkan tekanan darah diastolik adalah kekuatan darah saat jantung sedang beristirahat, atau antara detak jantung.

Ketika mengobati hipertensi, tujuannya adalah untuk menurunkan tekanan darah. Hal ini dapat dicapai melalui perubahan gaya hidup seperti menerapkan pola makan yang sehat dan meningkatkan aktivitas fisik, pengobatan, atau keduanya.

Menurut penelitian baru dari Dr. Clements dan rekannya, beberapa jenis obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dapat berkontribusi terhadap risiko kematian ini.

Obat Hipertensi yang harus dihindari

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 10.500 orang dewasa dengan tekanan darah tinggi. Para peserta memiliki tekanan darah diukur setidaknya tujuh kali antara Januari 2007 dan Desember 2011, dan jenis obat tekanan darah yang mereka gunakan dipantau.

Tim menggunakan data ini untuk menilai apakah kelas obat tekanan darah tertentu dikaitkan dengan variabilitas pada tingkat tekanan darah. Dan faktanya studi tersebut mengungkapkan dua kelas obat tekanan darah yang dikaitkan dengan variabilitas tekanan darah yang lebih tinggi pada subjek yaitu alfa blocker dan agonis alpha-2.

Obat golongan alfa blocker yang meliputi doxazosin mesylate dan prazosin hydrochloride bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah. Agonis Alpha-2, seperti metildopa, bekerja dengan menargetkan aktivitas sistem saraf simpatik, sehingga mengurangi penyempitan pembuluh darah.

Hasil Penelitian Dr. Brian Clements

Berdasarkan hasil penelitian, Dr. Clements dan rekannya mengatakan bahwa kedua obat ini tidak boleh digunakan untuk mengobati hipertensi. Menurutnya, pasien harus tahu tekanan darah mereka, dan pasien harus bekerja sama dengan dokter untuk mencari pilihan obat tekanan darah terbaik yang akan mengurangi varians. Lanjutnya, bila memungkinkan, kedua jenis obat diatas harus dihindari.

Golongan Obat Hipertensi yang Lebih Aman

Dr. Clements menambahkan bahwa obat hipertensi golongan ACE inhibitor, penghambat reseptor angiotensin (ARB), CCB, dan diuretik thiazide mungkin merupakan pilihan pengobatan yang lebih aman untuk pasien hipertensi. “Orang yang memakai obat tekanan darah jenis lain memiliki risiko kematian yang meningkat,” tambahnya.

Namun, variabilitas tekanan darah tidak semata-mata bergantung pada pengobatan. Dr. Clements mencatat bahwa cara tekanan darah diukur dapat memiliki efek signifikan pada pembacaan nilai tekanan darah.

Untuk pembacaan tekanan darah yang akurat, dia merekomendasikan agar pasien dalam posisi duduk atau berbaring selama 15 menit sebelum pengukuran dilakukan. Selain itu pasien perlu menghindari situasi stres.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here