pedoman mengobati diabetes mellitus tipe 2

Mengobati diabetes tipe 2 bersifat jangka panjang dengan tujuan mempertahankan kadar gula darah mendekati normal. Tanpa pengobatan, penyakit diabetes akan berpotensi mengalami komplikasi yang bersifat parah. Mengobati diabetes tipe 2 akan menjadi rutinitas harian Anda, sebab ini dilakukan seumur hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kendali glukosa yang lebih baik, memiliki risiko komplikasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan penderita yang memiliki kontrol kadar glukosa yang buruk. Oleh karena itu, tujuan utama pengobatan adalah:

  • Menjaga kadar glukosa darah mendekati normal.
  • Mengurangi faktor risiko lain yang dapat meningkatkan risiko komplikasi
  • Untuk mendeteksi komplikasi sedini mungkin.

Diabetes tipe 2 biasanya awalnya diobati dengan mengikuti pola hidup sehat, menurunkan berat badan jika Anda kelebihan berat badan, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Jika pilihan diatas belum mampu mengontrol kadar gula darah dengan baik, maka dibutuhkan obat-obatan untuk menurunkan kadar glukosa.

Sebagian besar obat diabetes tipe 2 diberikan dalam bentuk tablet. Namun, beberapa orang membutuhkan suntikan insulin ketika pengobatan tablet belum terkontrol. Suntikan insulin dapat digunakan dalam kombinasi dengan obat-obatan lain untuk lebih meningkatkan kontrol glukosa.

Penerapan pola hidup sehat

Sebelum melakukan pengobatan farmakologi (menggunakan obat), pilihan pertama adalah menerapkan pola hidup sehat. Cara ini dilakukan dengan:

  • Konsumsi makanan sehat secara seimbang.
  • Mengontrol berat badan jika berlebihan
  • Aktivitas olahraga secara teratur

Banyak penderita berhasil mengontrol kadar gula dengan langkah-langkah di atas. Namun, ketika cara mengobati diabetes tipe 2 diatas gagal, maka dibutuhkan pengobatan farmakologi.

Terapi farmakologi diabetes tipe 2

Agar kadar gula darah terkontrol dengan baik, dibutuhkan pengobatan diabetes mellitus tipe-2 dengan obat anti-diabetes, apabila penerapan hidup sehat gagal. Obat diabetes yang sering digunakan berdasarkan panduan farmakoterapi diabetes adalah sebagai berikut.

BACA:  Semua Tentang Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan 2

1. Metformin

Metformin masuk dalam golongan obat biguanide. Metformin berperan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, juga menekan pelepasan glukosa didalam tubuh. Penelitian juga telah menunjukkan penggunaan metformin mampu menurunkan risiko komplikasi diabetes seperti serangan jantung dan stroke.

Metformin adalah obat pilihan pertama yang disarankan untuk mengobati diabetes tipe 2 jika kadar glukosa darah tidak terkontrol. Ini sangat berguna jika Anda kelebihan berat badan, sebab metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Kelebihan metformin dibandingkan obat diabetes lainnya adalah tidak menyebabkan tingkat glukosa darah yang rendah (hipoglikemia). Obat ini juga digunakan sebagai tambahan untuk tablet penurun glukosa lainnya jika satu tablet tidak cukup mengontrol glukosa.

Efek samping metformin

Ketika metformin pertama kali dimulai, beberapa orang merasa mual atau diare. Pada dosis rendah, efek samping tersebut jarang terjadi.

2. Golongan sulfonilurea

Obat golongan sulfonilurea diantaranya glibenklamid, tolbutamid, glipsida, gliclazide, dan glimepirid. Obat ini bekerja dengan meningkatkan produksi insulin di pankreas. Catatan yang perlu diketahui adalah sulfonilurea tidak cocok pada penderita diabetes tipe-1, sebab pankreas mengalami kerusakan pada jenis diabetes ini.

Suatu sulfonylurea adalah pilihan kedua setelah metformin apabila pasien tidak bisa mentoleransi metformin, atau jika pasien dengan berat badan rendah. Pengobatan dimulai dosis rendah dan dapat ditingkatkan jika perlu setiap beberapa minggu sampai terlihat kontrol gula darah membaik.

Efek samping sulfonilurea

Karena golongan sulfonilurea bekerja meningkatkan produksi insulin, kemungkinan hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) bisa terjadi. Maka sangat dianjurkan untuk memulainya pada dosis terendah. Peningkatan berat badan juga sering terjadi. Meskipun jarang, mual, diare dan sembelit bisa terjadi

3. Nateglinide dan repaglinide

Nateglinide dan repaglinide memiliki mekanisme kerja serupa dengan sulfonilurea. Bekerja cepat meningkatkan tingkat insulin tetapi efek dari setiap dosis tidak bertahan lama. Diminum sesaat sebelum makanan. Namun, sulfonilurea umum lebih disukai sebagai pilihan pertama untuk meningkatkan insulin. Seperti golongan sulfonilurea, kemungkinan efek samping termasuk penambahan berat badan dan hipoglikemia.

BACA:  Penyakit Disfungsi Ereksi, Sebab Gejala dan Pengobatan

4. Dipeptidyl peptidase-4 inhibitor (DPP-4 Inhibitor)

Obat ini termasuk alogliptin, linagliptin, saxagliptin , sitagliptin dan vildagliptin. Penghambat DPP-4 adalah zat kimia (enzim) yang memecah hormon yang disebut incretins. ini adalah bahan kimia yang diproduksi oleh usus yang berperan mengurangi produksi gula darah hasil metabolisme makanan.

Obat-obatan ini bekerja dengan mengurangi tingkat glukosa darah dengan meningkatkan efek dari incretins mencegah DPP-4 bekerja. Obat ini dapat menjadi alternatif pilihan setelah metformin atau sulfonylurea.

Efek samping jarang terjadi dan biasanya ringan seperti mual muntah dan kembung. Jika menggunakan vildagliptin maka ada sedikit risiko kerusakan hati. Oleh karena itu, Anda harus melakukan tes darah untuk memeriksa fungsi hati Anda sebelum memulai pengobatan ini.

4. Pioglitazone

Pioglitazone adalah thiazolidinedione (kadang-kadang disebut glitazone). Pioglitazone menurunkan glukosa darah dengan meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh Anda terhadap insulin. Obat ini biasanya dikombinasikan dengan metformin atau sulfonilurea.

Perlu dicatat Anda menggunakan obat ini jika Anda mengalami gagal jantung, dan kerusakan hati. Beberapa penambahan berat badan bisa terjadi.

5. Acarbose

Acarbose bekerja dengan menunda penyerapan karbohidrat (yang dipecah menjadi glukosa) dari usus. Karena itu, dapat menurunkan puncak glukosa darah yang mungkin terjadi setelah makan. Ini adalah pilihan jika Anda tidak dapat menggunakan tablet lain untuk menjaga kadar glukosa darah.

Acarbose juga dapat digunakan sebagai tambahan untuk tablet penurun glukosa lainnya. Kemungkinan efek samping yang terjadi seperti kembung dan diare.

6. Insulin

Hanya beberapa orang dengan diabetes tipe 2 yang membutuhkan insulin. Mungkin disarankan jika kadar gula darah Anda tidak dikontrol dengan baik oleh obat tablet. Dosis dan jenis insulin yang digunakan bervariasi pada setiap pasien. Kadang-kadang insulin digunakan sendiri. Namun, kadang-kadang digunakan sebagai tambahan untuk obat tablet.

Efek samping insulin

Beberapa penambahan berat badan merupakan efek samping yang umum. Ini bisa diatasi dengan menggunakan insulin dalam kombinasi dengan tablet seperti metformin. Hipoglikemia adalah komplikasi yang mungkin terjadi.

BACA:  Cara Antisipasi Kaki Diabetes dan Mengobati Komplikasi

7. GLP-1

Exenatide , albiglutide, dulaglutide, lixisenatide, dan liraglutide adalah glukagon seperti peptida-1 (GLP-1) yang merupakan pengobatan yang diberikan sebagai suntikan. Obat ini bekerja dengan cara yang mirip dengan aksi peptida seperti hormon glucagon. Bekerja merangsang sekresi insulin sebagai respons terhadap glukosa dan mencegah pelepasan glukagon setelah makan. Glukagon adalah hormon yang meningkatkan gula darah.

Exenatide dan liraglutide biasanya digunakan sebagai pengobatan tambahan untuk meningkatkan kontrol glukosa ketika pengobatan insulin tidak dapat diterima. Efek samping mungkin termasuk hipoglikemia, mual dan sakit kepala. Orang yang menerima pengobatan ini biasanya berat badannya turun.

8. Inhibitor Natrium-glukosa co-transporter-2 (SGLT-2)

Canagliflozin, dapagliflozin dan empagliflozin adalah inhibitor natrium-glukosa co-transporter-2 (SGLT-2) yang meningkatkan jumlah glukosa dalam urin Anda. Sehingga dengan demikian mengurangi kadar glukosa darah. Obat-obatan ini dapat digunakan sendiri atau dengan obat lain untuk membantu mengontrol glukosa darah bagi penderita diabetes tipe 2.

Pemantauan kadar gula darah

Pengobatan harus dipantau secara teratur ketika mendapatkan terapi farmakologi diabetes. Tes darah utama digunakan untuk menjaga kadar gula darah Anda  disebut tes HbA1c. Tes ini biasanya dilakukan setiap 2-6 bulan. Tes HbA1c mengukur sebagian sel darah merah. Bagian ini dapat diukur dan memberikan indikasi yang baik dari kadar glukosa darah rata-rata selama 1-3 bulan sebelumnya.

Target ideal bagi banyak orang adalah mempertahankan HbA1c Anda hingga kurang dari 48 mmol / mol (6,5%) tetapi tingkat target yang lebih tinggi – misalnya, 53 mmol / mol (7,0%) – mungkin lebih tepat. Tingkat target yang lebih tinggi biasanya disarankan untuk orang-orang yang beresiko hipoglikemia.

Tes lain adalah pengukuran gula darah sewaktu (GDS) ataupun gula darah puasa (GDP) menggunakan alat cek gula darah sederhana. Normalnya GDS adalah 200 mg/dl dan GDP <126 mg/dl.

Pengobatan pendukung

Untuk membantu mencegah komplikasi penyakit jantung, stroke, serta komplikasi lainnya, dibutuhkan pengobatan tambahan seperti:

  • Kontrol tekanan darah
  • Tidak merokok
  • Kontrol kadar kolesterol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here