kata kata yang tidak boleh diucapkan kepada anak

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa kalimat yang paling sering diucapkan kepada anak-anak sebenarnya cukup merusak. Dampaknya bisa mengubah cara hidup anak seperti mudah menyerah ketika menghadapi masalah, bergantung pada orang lain, bahkan memiliki rasa kurang percaya diri.

Berikut ini daftar ucapan atau kata-kata yang tidak boleh didengar oleh anak ketika berhadapan dengan anak Anda. Dilansir dari lifehacker.com, juga menyertakan alternatif sehingga Anda dapat mengganti ucapan yang dilarang untuk anak dengan kalimat yang akan benar-benar mendorong motivasi intrinsik dan koneksi emosionalnya. Simaklah salah satu kesalahan orang tua mendidik anak melalui ucapan berikut ini.

1. Memuji dengan kata “Kerja yang bagus”

Pujian langsung sebenarnya adalah kata yang tidak boleh diucapkan kepada anak. Masalah terbesar dengan ucapan kepada anak ini adalah sering dikatakan berulang kali dan untuk hal-hal yang tidak benar-benar dilakukan anak. Ini mengajarkan anak-anak untuk hasil positif semata dari setiap usaha mereka. Dan ketika mereka gagal, perasaan lain akan mengganggunya.

Sebagai gantinya cobalah untuk memfokuskan penjelasan pada proses yang mereka kerjakan. Anda bisa ucapkan, “Ini adalah hasil dari kerja kerasmu” Dengan berfokus pada upaya anak. Ini mengajarkan anak-anak untuk lebih gigih ketika mereka sedang berusaha. Dan ketika mendapatkan kegagalan, mereka menganggap hanya sebagai satu langkah menuju kesuksesan.

2. Pujian “Anak yang Baik”

Pernyataan ini meskipun dikatakan dengan niat baik, sebenarnya memiliki efek berlawanan yang Anda harapkan. Kebanyakan orang tua mengatakan ini sebagai cara untuk meningkatkan harga diri seorang anak. Sayangnya, efeknya cukup berbeda.

Ketika anak-anak mendengar “Anak yang Baik” saat selesai mengerjakan tugasnya, mereka menganggap bahwa mereka hanya “baik” karena telah melakukan apa yang Anda minta. Itu membuat skenario di mana anak-anak dapat menjadi takut kehilangan status mereka sebagai “anak baik”.

BACA:  Peneliti Temukan Banyak Dampak Membentak Anak Balita

Sebaliknya, cobalah “Saya sangat menghargai kerjasama mu nak”. Ini memberi anak-anak informasi nyata tentang apa yang Anda inginkan dan bagaimana sikap mereka bisa berpengaruh nyata kepada orangtuanya.

Cara lain memuji anak Anda bisa dengan ucapan “Saya lihat kamu berbagi mainan dengan temanmu, kamu akan rasakan manfaatnya nanti.” Ini memungkinkan anak Anda untuk memutuskan sendiri apakah berbagi itu “baik” dan memungkinkan dia memilih untuk mengulang tindakan tersebut. Ini bisa juga menjadi motivasi internal mereka.

3. Memuji Anak “Kamu menggambar dengan indah sekali”

Ketika kita menempatkan evaluasi dan penilaian pada karya seni anak, itu akan merampas mereka dari kesempatan untuk menilai dan mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri.

Sebagai gantinya cobalah, “Di gambarmu, Saya melihat merah, biru dan kuning! Bisakah ceritakan tentang yang kamu gambar? ” Dengan melakukan pengamatan, Anda mengizinkan anak Anda untuk memutuskan apakah gambar itu indah atau tidak.

Dan dengan memintanya untuk memberi tahu Anda tentang hal itu, Anda mengundangnya untuk mulai mengevaluasi pekerjaannya sendiri dan membagikan niatnya. Ini juga akan membawa keterampilan yang akan melayani kreativitasnya saat ia dewasa.

4. Mengucapkan “Hentikan sekarang juga!”

Mengancam seorang anak hampir tidak pernah merupakan ide yang bagus. Pertama-tama, Anda mengajari mereka keterampilan yang sebenarnya tidak ingin mereka miliki. Anda membuka kemampuan untuk menggunakan kekerasan atau kecerdikan luar biasa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ancaman yang Anda lakukan tidak mendapatkan hasil yang Anda inginkan dan Anda merusak hubungan Anda dengan anak Anda. Meskipun sulit untuk menahan dorongan untuk mengancam, cobalah berbagi dengan mudah dan mengalihkan ke sesuatu yang lebih tepat.

Anda bisa mengatakan “Jika memukul adikmu. Saya khawatir dia akan terluka, atau dia akan membalas dan menyakitimu”. Ini pada akhirnya akan mengarah pada pengendalian diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik untuk anak Anda.

5. Berkata “Jika kamu _____ maka saya akan memberimu _____”

Menyuap anak sama merusaknya perilaku negatif lain, karena menghalangi mereka bekerja sama hanya demi mengharap sesuatu. Kontrak seperti ini bisa menjadi konflik kelak, sebab suatu saat anak Anda bisa saja berkata “Tidak! Saya tidak akan melakukan _____ jika saya tidak diberikan _______!

Sebagai gantinya cobalah mengatakan “Terima kasih banyak karena telah membantu saya membersihkan!” Ketika kita menawarkan rasa syukur yang tulus, anak-anak secara intrinsik termotivasi untuk terus membantu.

BACA:  Demam pada Bayi, Cara Mengobati dan Mengatasi

Dan ketika anak Anda terlihat jarang membantu, Anda dapat mengingatkan dengan kata “Ingat beberapa bulan yang lalu ketika kamu membantu saya membuang sampah? Itu sangat membantu. Terima kasih nak!” Kemudian izinkan anak Anda menemukan kesimpulan bahwa membantu itu menyenangkan dan secara intrinsik memberi imbalan.

6. Jangan Memuji Anak “Kamu sangat pintar!”

Ketika kita memberi tahu anak-anak bahwa mereka pintar, kita pikir akan membantu meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri mereka. Sayangnya, memberikan pujian karakter seperti ini justru sebaliknya.

Dengan memberi tahu anak-anak bahwa mereka pintar, kita secara tidak sengaja mengirimkan pesan bahwa mereka hanya pintar ketika mereka mendapatkan nilai, mencapai tujuan, atau menghasilkan hasil yang ideal.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika kita memberi tahu anak-anak bahwa mereka pintar setelah menyelesaikan teka-teki, mereka cenderung tidak mencoba teka-teki yang lebih sulit setelahnya. Itu karena anak-anak khawatir jika mereka tidak melakukannya dengan baik, kita tidak akan lagi berpikir mereka “pintar.”

Sebaliknya, cobalah memberi tahu anak-anak bahwa Anda menghargai upaya mereka . Dengan berfokus pada upaya, daripada hasilnya, Anda membiarkan seorang anak tahu apa yang sebenarnya diperhitungkan.

Tentu menyelesaikan teka-teki itu menyenangkan, tetapi begitu juga dengan mencoba teka-teki yang bahkan lebih sulit. Studi yang sama menunjukkan bahwa ketika menyebutkan “luar biasa, kamu benar-benar berusaha dengan baik!” kepada anak, mereka jauh lebih mungkin mencoba teka-teki/soal yang lebih menantang di lain waktu.

7. Berkata “Jangan menangis.”

Menghentikan anak menangis bukan perkara mudah. Tetapi ketika kita mengatakan hal-hal seperti, “Jangan menangis,” kita membatalkan perasaan mereka dan memberi tahu mereka bahwa air mata mereka tidak dapat diterima. Hal ini menyebabkan anak-anak belajar untuk mengisi emosi mereka sendiri, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ledakan emosi yang lebih eksplosif.

Cobalah menahan anak Anda saat dia menangis. Anda bisa coba hal-hal seperti, “Tidak apa-apa menangis. Setiap orang perlu menangis sebentar. Saya akan berada di sini untuk mendengarkanmu”. Anda bahkan dapat mencoba mengungkapkan perasaan yang mungkin dimiliki anak Anda, “Apakah kamu menangis karena bapak lupa membangunkanmu sholat, maaf nak?”

BACA:  Merawat Bayi Baru Lahir, Tips Ibu Melahirkan Anak Pertama

Cara tersebut dapat membantu anak memahami perasaannya, dan belajar untuk mengungkapkan secara verbal lebih cepat. Dan dengan mendorong ekspresi emosionalnya, Anda membantunya belajar mengatur emosinya, yang merupakan keterampilan penting yang akan melayaninya sepanjang hidup.

8. Jangan berkata “Saya berjanji…”

Janji-janji suatu saat akan rusak dan menyakitkan. Sebaiknya hapuslah kata tersebut jika ingin berbicara pada anak. Pilihlah untuk bersikap super jujur dengan anak Anda. Seperti “Saya tau kamu membutuhkannya, saya akan berusaha. Namun kadang-kadang ada saja halangan untuk mendatangkan sesuatu.”

Pastikan Anda benar-benar melakukan yang terbaik jika mengatakan Anda juga akan melakukannya. Mempertahankan kata-kata Anda membangun kepercayaan. Jadi berhati-hatilah dengan apa yang Anda katakan, dan kemudian hidupkan kata-kata Anda sebanyak mungkin secara manusiawi.

Satu lagi catatan tentang ini, jika Anda melanggar kata Anda, Akuilah dan meminta maaf kepada anak Anda. Ingat, Anda mengajari anak-anak Anda bagaimana berperilaku ketika mereka gagal. Jadi lakukan yang terbaik untuk menjadi contoh kejujuran bagi anak Anda.

9. Mengatakan “Ini gampang kok untuk kamu!”

Ada banyak cara kita meminimalkan dan meremehkan perasaan anak-anak, jadi waspadalah terhadap yang satu ini. Anak-anak sering menghargai hal-hal yang tampak kecil dan tidak penting bagi sudut pandang orang dewasa. Jadi, cobalah untuk melihat sesuatu dari sudut pandang anak Anda.

Berempatilah dengan perasaan mereka. “Kamu bisa mencobanya, namun butuh pengulangan yang banyak agar kamu bisa lancar”. Ini akan membawa anak-anak ke pemikiran untuk berusaha sampai mereka bisa.

10. Hindari berkata “Kenapa kamu lakukan itu?”

Sering kita ucapkan kepada anak “kenapa kamu lakukan itu?”, padahal sebenarnya itu kata yang tidak boleh diucapkan kepada anak-anak. Jika anak Anda telah melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai, Anda tentu perlu untuk membicarakannya. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, banyak anak akan menutup diri dan bersikap defensif atau mencari pembelaan.

Sebaliknya, buka jalur komunikasi dengan menebak apa yang mungkin dirasakan oleh anak Anda dan apa kebutuhan dasarnya. “Oh, Dia memecahkan kaca karena lupa kalau gelas beda dengan plastik. Dengan mencoba memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh anak Anda, Anda mungkin bahkan menemukan rasa kesal Anda berkurang setelah berkata seperti itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here