temuan obat baru dan indikasi terbaru disetujui

Badan Pengawas Obat dan Makanan menyetujui izin edar obat baru Nintedanib untuk mengobati fibrosis paru idiopatik. Bentuk sediaan kapsul lunak 100 dan 150 mg obat ini menjadi prioritas BPOM, mengingat fibrosis paru masuk kategori penyakit langka dan pengobatan yang tersedia masih terbatas.

Penyakit Fibrosis paru (Idiopathic Pulmonary Fibrosis-IPF) ditandai kerusakan fungsi paru-paru akibat adanya jaringan parut didalamnya. Dampaknya terjadi penebalan serta sifat kaku pada jaringan sekitar kantung udara didalam alveolus, sehingga penderita akan sulit bernafas. Gangguan oksigen masuk ke aliran darah menjadi faktor utama.

Obat Nintedanib adalah triple angiokinase inhibitor, senyawa turunan indolinone yang bekerja menghambat aktivitas kinase dari vascular endothelial growth factor receptors (VEGFR) l-3, platelet derived growth factor receptors (PDGFR) alp, dan fibroblast growth factor receptors (FGFR) l-3. Melalui mekanisme tersebut, obat nintedanib dapat menghambat proliferasi, migrasi dan transformasi fibroblast menjadi myofibroblast pada fibroblast paru pasien fibrosis paru.

Obat dengan nama dagang Opev milik PT. Boehringer Ingelheim Indonesia disetujui januari 2018 silam. Persetujuan izin edar obat ini didasarkan pada data uji klinis selama 52 minggu pada pasien IPF. Data keamanan dan data mutu dari hasil uji klinik tersebut menunjukkan perbaikan fungsi paru pasien IPF setelah diberikan obat nintedanib.

Baca: Artikel Asli

BACA:  Diabetes Mellitus: Ilmuwan Menemukan 5 Tipe, Bukan 2!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here