sumber:clinicaltrialsarena.com ilustrasi obat anti virus corona COVID-19

Corona virus (COVID-19) adalah virus baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Virus penyebab penyakit yang berasal dari China ini telah menjadi wabah penyakit dengan level tinggi mengalahkan virus SARS. Meski begitu, WHO menyebutkan tingkat kematian akibat Virus Corona (2-5%), ini jauh lebih rendah dibandingkan virus SARS yakni 9,5%.

Penamaan (COVID-19) dimulai pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengumumkan nama resmi untuk penyakit yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan Cina. Nama baru penyakit ini adalah penyakit Vorona Virus 2019, disingkat COVID-19. Dalam COVID-19, ‘CO’ adalah singkatan dari ‘Corona,’ ‘VI’ untuk ‘Virus,’ dan ‘D’ untuk Disease. Sebelumnya, penyakit ini disebut sebagai “2019 novel coronavirus” atau “2019-nCoV”.

Bagaimana Virus Corona Menyebar?

Virus ini diperkirakan menyebar terutama dari orang ke orang. Antara orang yang bersentuhan erat satu sama lain, Melalui cairan pernapasan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin. Cairan ini dapat menempel di mulut atau hidung orang yang berada di sekitarnya atau mungkin terhirup hingga masuk kedalam paru-paru.

Penyebaran melalui benda mati mungkin saja seseorang bisa terinfeksi virus corona bila menyentuh permukaan atau benda terinfeksi dan kemudian menyentuh mulut, hidung, maupun mata, tetapi ini tidak dianggap sebagai cara utama virus corona menyebar.

Siapa yang berisiko terkena infeksi coronavirus?

Siapa pun dapat terkena infeksi coronavirus, tetapi anak-anak kecil kemungkinan besar terinfeksi. Di Amerika Serikat contohnya, infeksi lebih sering terjadi pada musim gugur dan musim dingin. Sehingga tidak ada jaminan suatu negara bisa terbebas dari wabah ini.

BACA:  Diabetes Mellitus, Sebab Gejala dan Pengobatan

Seberapa mudah dan cepat virus corona menyebar?

Penularan virus corona menyebar dari orang ke orang dapat bervariasi. Virus yang menyebabkan COVID-19 tampaknya menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada kelompok masyarakat di beberapa wilayah yang terkena dampak. Penyebaran komunitas berarti orang telah terinfeksi virus di suatu daerah, termasuk beberapa yang tidak yakin bagaimana atau di mana mereka terinfeksi.

  • Orang-orang dianggap paling menular ketika mereka mengalami gejala virus corona.
  • Beberapa penyebaran mungkin sudah terjadi sebelum orang menunjukkan gejala

Gejala Virus Corona

Penyakit yang dilaporkan ini memiliki tingkat keparahan dari gejala ringan hingga penyakit parah dan kematian untuk kasus penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang dikonfirmasi.

Gejalanya tergantung pada jenis coronavirus dan seberapa serius infeksi tersebut. Jika Anda memiliki infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang seperti flu biasa, gejala dapat muncul 2-14 hari setelah paparan. Gejala diantaranya:

  • Hidung beringus
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Demam
  • Secara keseluruhan tidak enak badan

Beberapa coronavirus dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksi dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia, yang menyebabkan gejala seperti:

  • Demam, yang mungkin cukup tinggi jika Anda menderita pneumonia
  • Batuk dengan lendir
  • Sesak napas
  • Nyeri dada atau sesak saat Anda bernapas dan batuk

Infeksi parah lebih sering terjadi pada orang dengan penyakit jantung atau paru – paru , orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi, dan orang dewasa yang lebih tua.

Seorang bila ditemukan atau mengalami gejala diatas meski belum terkonfirmasi, hendaknya melakukan tindakan langkah pertama yakni :

  • Pasien harus membatasi aktivitas di luar rumah, kecuali untuk mendapatkan perawatan medis.
  • Jangan pergi bekerja, sekolah, atau tempat umum.
  • Hindari menggunakan transportasi umum, berbagi perjalanan, atau taksi.
  • Pisahkan diri dari orang lain termasuk hewan peliharaan
  • Selalu kenakan masker
  • Selalu jaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara rutin
  • Hubungi petugas medis sebelum mendapatkan pertolongan langsung
BACA:  Kenali 6 Tanda Peringatan Serangan Jantung Sebelum Terjadi

Pengobatan

Belum ada pengobatan anti virus khusus yang ditemukan untuk COVID-19. Orang dengan COVID-19 harus menerima perawatan suportif untuk membantu meringankan gejala. Untuk kasus yang parah, perawatan harus mencakup perawatan untuk mendukung fungsi organ vital tidak mengalami kerusakan.

Orang yang berpikir bahwa mereka mungkin terpapar COVID-19 harus segera menghubungi penyedia layanan kesehatan mereka.

Saat ini Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan pedoman penanganan Virus Corona serta kesiapsiagaan pemerintah dalam mengatasi kejadian luar biasa (KLB) ini.

Bagaimana Mencegah Penularan Virus Corona?

Hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit corona virus 2019 (COVID-19). Cara terbaik untuk mencegah penyakit 2019-nCoV adalah menghindari sumber-sumber dari virus ini. Namun, sebagai pengingat, Central for Disease Control and Prevention (CDC) USA selalu merekomendasikan tindakan pencegahan setiap hari untuk membantu mencegah penyebaran penyakit pernapasan. Cara mencegah diantaranya:

  • Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami gejala virus corona.
  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut Anda sebelum mencuci tangan.
  • Batasi keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain bila wilayah Anda sudah ditemukan sejumlah kasus terkonfirmasi.
  • Tutup mulut saat batuk atau bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah.
  • Bersihkan dan desinfeksi benda dan permukaan yang sering disentuh menggunakan semprotan pembersih rumah biasa.
  • Gunakan masker mulut terutama ketika berinteraksi dengan orang asing.
  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik, terutama setelah pergi ke kamar mandi; sebelum makan; dan setelah meniup hidung, batuk, atau bersin.
  • Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol dengan setidaknya mengandung 60% alkohol. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air jika tangan tampak kotor.
BACA:  6 Pertanda Tubuh Mengidap Penyakit yang Sering Diabaikan

Pengujian alat tes corona virus

Beberapa negara mulai mengembangkan pengujian untuk mendeteksi virus corona secara cepat termasuk CDC. Organisasi USA ini sedang bekerja untuk mengembangkan tes laboratorium baru untuk membantu upaya menentukan berapa banyak populasi di AS yang terpapar sindroma pernafasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2), virus yang menyebabkan COVID-19

Tes serologi akan mencari keberadaan antibodi, yang merupakan protein spesifik yang dibuat sebagai respons terhadap infeksi. Antibodi dapat ditemukan dalam darah dan jaringan lain dari mereka yang dites setelah infeksi. Antibodi yang dideteksi oleh tes ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki respons imun terhadap SARS-CoV-2, termasuk gejala yang muncul akibat infeksi. Hasil tes antibodi penting dalam mendeteksi infeksi dengan sedikit atau tanpa gejala.

Pekerjaan awal untuk mengembangkan tes serologi untuk SARS-CoV-2 sedang berlangsung di CDC. Untuk mengembangkan tes, CDC membutuhkan sampel darah dari orang yang memiliki COVID-19 setidaknya 21 hari setelah gejala mereka pertama kali dimulai. Para peneliti saat ini sedang bekerja untuk mengembangkan parameter dasar untuk tes, yang akan disempurnakan karena semakin banyak sampel yang tersedia. Setelah tes dikembangkan, CDC akan membutuhkan sampel tambahan untuk mengevaluasi apakah tes berfungsi sebagaimana dimaksud.

Referensi:

  • – CNBCIndonesia.com: “WHO Sebut Tingkat kematian Corona 2-5%, Jauh di Bawah SARS”. link https://www.cnbcindonesia.com/news/20200302124619-4-141695/who-sebut-tingkat-kematian-corona-2-5-jauh-di-bawah-sars
  • – CDC.gov: “About Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)”. link https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/about/index.html
  • – Medlineplus.gov: “Coronavirus Infections”. Link https://medlineplus.gov/coronavirusinfections.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here