preeklampsia
sumber: newsroom.cumc.columbia.edu

Kehamilan merupakan suatu anugerah yang selalu dinanti oleh para calon ibu. Tetapi, Setiap ibu hamil selalu mengharapkan proses kehamilan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Namun, dibalik itu, kadang terdapat kondisi-kondisi tertentu yang mungkin dialami oleh para ibu hamil selama kehamilannya. Salah satunya adalah preeklampsia.

Mungkin untuk para ibu preeklampsia bukanlah kata yang asing, tapi bagi calon ibu istilah preeklampsia terdengar cukup asing di telinga. Apa itu preeklampsia? Berbahayakah bagi ibu calon ibu dan janinnya? Bisakah preeklamsia disembuhkan? Bagaimana cara mengobati atau mencegahnya? Mari kita kupas satu per satu.

Apa itu preeklampsia?

Preeklampsia adalah suatu penyakit yang terjadi pada masa kehamilan yang ditandai dengan tingginya tekanan darah (sekitar lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg) yang disertai tanda-tanda kerusakan organ, misalnya proteinuria yaitu tingginya kadar protein di dalam urin.

Penyakit ini umumnya muncul ketika usia kehamilan memasuki minggu ke-20 atau sekitar usia kehamilan 24-26 minggu sampai tak lama setelah bayi lahir.

Tanda preeklampsia

Tanda-tanda yang dapat dikenali antara lain bengkak pada area wajah atau tangan, sakit kepala yang tak kunjung sembuh, penglihatan yang berkurang,susah bernafas, kenaikan berat badan yang tiba-tiba, nyeri pada bagian lambung dan mual muntah.

Meskipun tidak semua ibu hamil mengalami kondisi ini, tetapi kondisi ini cukup berbahaya apabila terjadi selama masa kehamilan. Bahkan, jika tidak disadari oleh sang ibu, dapat berkembang menjadi kondisi yang serius, yaitu eklampsia yang dapat mengancam ibu dan janinnya.

Sebab preeklampsia

Preeklamsia dapat disebabkan karena obesitas (kegemukan), pernah mengalami riwayat penyakit ini pada kehamilan sebelumnya, terdapat keluarga yang pernah terkena preeklampsia, pasien diabetes tipe 1 atau 2 dan kehamilan pada usia lanjut.

BACA:  7 Kelompok Makanan Sehat Ibu Hamil Trimester Pertama

Di Indonesia tepatnya di RS Dr Soetomo Surabaya, pada tahun 2010, kemungkinan ibu hamil untuk mengalami preeklamsia adalah sebesar 95%. Rata- rata penyebab para ibu hamil tersebut mengalami preeclampsia adalah karena faktor usia. Setiap tahun kejadian pada ibu hamil terus meningkat.

Penelitian lain yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta menyatakan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadianpreekalmpsia juga karena faktor usia dan pekerjaan. Peningkatan kejadian pre-eklampsia terbanyak terjadi di Surabaya pada tahun 2013 sebanyak 1094 orang.

Mengobati preeklampsia

Lalu, bagaimana cara mengobati preeklampsia? pre-eklampsia dapat disembuhkan dengan beberapa obat, antara lain metildopa, labetalol, nifedipin dan obat antidiuretik. Sedangkan obat-obat antihipertensi lain seperti captopril (ACEI),valsartan (ARB) tidak dianjurkan untuk selama kehamilan.

Diantara beberapa pilihan obat yang ada metildopa dan labetalol dinilai lebih aman dan efektif untuk ibu dan janin dibanding nifedipin atau antidiuretik. Metildopa dan labetalol sama-sama memiliki efek samping, namun efek samping dari metildopa lebih sedikit dan cenderung ringan dibanding labetalol seperti pusing dan lemas.

Metildopa umumnya diresepkan oleh dokter dengan dosis 750-1000 mg per hari dan diminum 3-4 x sehari.

Catatan: setiap tindakan penggunaan obat preeklampsia harus berdasarkan petunjuk dokter. Anda tidak disarankan untuk mengambil langkah coba-coba atau tanpa pengawasan dari dokter.

Mencegah preeklampsia

Jadi, untuk para calon ibu tidak perlu khawatir karena preeklampsia dapat disembuhkan. Namun, alangkah baiknya apabila kita mencegah terlebih dahulu, seperti kata pepatah “ Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati”.

Preeklampsia dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) secara rutin dan teratur. Antenatal Care adalah suatu pemeriksan kehamilan yang bertujuan untuk memantau kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan janin serta meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu dan bayinya.

BACA:  Hamil 8 Bulan Kaki Mulai Bengkak dan Kontraksi Meningkat

Antenatal Care (ANC) minimal dilaksanakan sebanyak 4 kali, yaitu satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0–13 minggu), satu kali pada trimester II (usia kehamilan 14–27 minggu), dan dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28–40 minggu).

Selain dengan pemeriksaan Antenatal Care, menurut WHO (World Health Organization) beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya preklampsia antara lain:

  • Istirahat yang cukup
  • Mengurangi konsumsi garam selama kehamilan
  • Mengonsumsi suplemen atau makanan yang mengandung vitamin D dan kalsium
  • Pemberian Magnesium Sulfat

Dengan pola hidup yang sehat dan selalu mengikuti anjuran dokter atau tenaga kesehatan, kemungkinan untuk terjadi dapat diminimalisir. Oleh karena itu, untuk para calon ibu, semangat untuk hidup sehat dan selalu menjaga kesehatan selama hamil demi melahirkan calon generasi-generasi penerus bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here