Teknologi Terapi Laser untuk Pengobatan Modern

Teknologi Terapi Laser untuk Pengobatan Modern

Penggunaan terapi laser di masa kemajuan teknologi saat ini sudah banyak diminati. Laser singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation sering digunakan dibidang bedah dan tehnik dengan power tinggi dan kemampuan untuk merusak sel dan material, dan ada pula yang digunakan dalam bidang Rehabilitasi Medik laser dengan power rendah dan kemampuan untuk photobiomodulasi sel.

Sinar laser tidak seperti sinar biasa dan yang membedakannya adalah sinar laser mempunyai karakteristik monokromatis yaitu, semua photon memiliki satu panjang gelombang dan satu warna, kolimasi yaitu, divergen minimal pada sebuah jarak, dan koheren yaitu, semua photon berjalan pada phase yang sama (temporal) dan arah yang sama (spatial)

Teknologi modern terapi menggunakan laser dibidang pengobatan

Prinsip pembangkit laser menggunakan teori dasar atom. Normalnya semua atom berada pada tingkat energi yang paling rendah. Keadaan tersebut dinamakan ground level. Bila energi luar diabsorpsi oleh atom tersebut, elektron yang mempunyai tingkat energi tertentu menjadi tidak stabil dan akan berubah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom tersebut dalam keadaan excited state. Atom yang dalam keadaan excited state ini bersifat sementara dan segera kembali ke ground state dengan melepaskan photon.

Kejadian tersebut dinamakan spontaneous emission. Photon adalah energi sinar yang ditransmisikan ke dalam ruang dan mempunyai panjang gelombang tertentu. Photon dari atom yang excited state tadi akan menstimulasi atom excited state yang lain sehingga mengeluarkan photon yang identik dalam hal energi, panjang gelombang dan frekuensi dan berjalan ke arah yang sama dan mempunyai fase yang sama. Kejadian tersebut dinamakan stimulated emission of radiation, yang mendasari terjadinya sinar laser.

Sejak laser diproduksi, efek biologis dan fisiologisnya sampai sekarang masih diteliti. Mekanisme yang sesungguhnya masih belum dapat dijelaskan walaupun efek fisiologis termasuk peningkatan sintesa kolagen, peningkatan vaskularisasi, pengurangan nyeri dan anti-inflamasi.

Teknologi laser untuk pengobatan Inflamasi

Pada biopsi luka didapatkan adanya aktivitas prostaglandin akibat efek dari stimulasi laser pada proses inflamasi. Penurunan prostaglandin (PGE2) merupakan mekanisme terapi laser untuk mengurangi edema. Selama inflamasi, prostaglandin menyebabkan vasodilatasi sehingga aliran plasma masuk ke jaringan interstitial. Dengan adanya penurunan prostaglandin maka edema akan berkurang. Jumlah prostaglandin E dan F diperiksa setelah terapi laser HeNe 1 J/cm². Dalam waktu 4 hari, dua tipe prostaglandin ini terakumulasi lebih banyak daripada kontrol. Namun pada hari kedelapan, PGE2 menurun sedangkan PGF2 α meningkat. Didapatkan juga peningkatan kapilarisasi selama fase ini. Data ini menunjukkan bahwa produksi prostaglandin dipengaruhi oleh stimulasi laser dan perubahan ini menunjukkan peningkatan resolusi pada proses inflamasi akut.

Teknologi Laser untuk Penyembuhan luka

Didalam buku teks rehabilitasi medik, Mester beserta timnya melakukan sejumlah penelitian invitro dengan dua laser spektrum merah yaitu laser ruby (panjang gelombang 694,3 nm) dengan laser HeNe (panjang gelombang 632,8 nm). Kultur jaringan manusia menunjukkan peningkatan jumlah proliferasi fibroplastik yang signifikan setelah dilakukan stimulasi oleh kedua laser tersebut. Fibroblas adalah sel prekursor untuk struktur jaringan ikat.

Abergel dan timnya juga meneliti bahwa dosis tertentu dari laser HeNe dan GaAs (panjang gelombang 904 nm) akan meningkatkan 3 kali produksi prokolagen. Efek ini terlihat pada stimulasi GaAs dosis 1,94 x 10-7 sampai 5,84 x 10-6 J/cm2, HeNe dosis 0,053-1,589 J/cm2 yang diulang lebih dari 3-4 hari dibandingkan stimulasi tunggal, pada sampel jaringan menunjukkan peningkatan fibroblas dan struktur kolagen sama dengan peningkatan di dalam material intrasel dan pembesaran mitokondria sel.

Luka yang diterapi dengan laser mempunyai tensile strength yang lebih besar terutama pada 10-14 hari pertama setelah injuri. Hipertropi jaringan (sikatrik) tidak didapatkan. Laser HeNe dosis 1,1-2,2 J/cm² memberikan hasil yang bagus bila diberikan 2 kali sehari atau selang hari.

Teknologi Laser untuk Mengobati Nyeri

Laser juga mengurangi nyeri dan mempengaruhi aktivitas saraf perifer. Efek dari penyinaran HeNe pada peripheral sensory nerve latency pada manusia diteliti oleh Snyder-Mackler dan Bork, menunjukkan bahwa pemberian laser dosis rendah pada saraf radialis superfisial memberikan hasil penurunan kecepatan konduksi saraf sensorik yang signifikan. Hal ini menunjukkan adanya mekanisme pengurangan nyeri dari laser. Penjelasan lainnya, penurunan nyeri ini mungkin disebabkan proses penyembuhan lebih cepat, efek anti-inflamasi dan respon neurohumoral (serotonin, norepinephrin).

Nyeri kronik yang diterapi dengan laser GaAs dan HeNe telah diteliti dengan hasil yang bagus. Walker membandingkan HeNe dengan sham treatment pada penderita dengan nyeri kronik. Pemberian pada saraf radialis, medianus, saphena didapatkan penurunan nyeri secara bermakna dibandingkan pemakaian obat nyeri pada kontrol. Studi pendahuluan ini memberikan hasil yang bagus, walaupun modulasi nyeri sulit diukur secara obyektif.

Bahaya dan Kontraindikasi penggunaan laser

Bahaya utama terapi laser adalah kerusakan mata bila sinar laser mengenai mata. Meskipun terapi ini tidak menimbulkan panas pada jaringan yang terpapar, tetapi bila sinar melalui lensa mata, sinar akan difokuskan sehingga densitas sinar meningkat dan menimbulkan panas pada jaringan yang terpapar. Sinar laser seharusnya dihidupkan bila aplikator sudah kontak dengan kulit dan pemeriksa maupun penderita harus memakai kacamata pelindung. Paparan langsung pada jaringan yang terserang tumor harus dihindari karena dapat mempercepat proses metastase. Pemberian paparan langsung pada penderita hamil juga harus dihindari.

Referensi: Buku Teks Rehabilitasi medik oleh Desi Kurniawati Tandiyo. UNS. 2010

Tinggalkan komentar