Cermati Cara Penggunaan Obat Tradisional yang Aman

Cermati Cara Penggunaan Obat Tradisional yang Aman

Jika diperhatikan, penggunaan obat herbal semakin mendapatkan kepercayaan yang meningkat dari waktu ke waktu. Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman daripada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena efek samping obat herbal yang relatif lebih sedikit dari pada obat sintetik. Namun apabila penggunaan obat herbal tanpa didasari pengetahuan yang memadai seputar cara menggunakan obat tradisional, keamanan obat tradisional pun dapat sebaliknya yaitu kemungkinan bersifat merugikan untuk kesehatan.

Menggunakan obat tradisional hendaklah dibarengi dengan aturan penggunaan yang tepat dari beberapa segi. Tujuan ini tidak lain untuk memberikan efek obat herbal yang diinginkan dan meningkatkan keamanan obat tradisional. Berobat dengan tanaman herbal harus didasari ketepatan cara penggunaan obat tradisional agar efek samping obtra relatif kecil dan lebih aman. Cara penggunaan tersebut akan dijelaskan berikut ini.

Kebenaran bahan/tanaman herbal

Menggunakan obat tradisional dengan hanya melihat bentuk tanaman tersebut bukanlah cara tepat dalam menentukan bahan obat herbal. Jika ditelusuri lebih jauh, tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Seperti contoh antara lempuyang emprit (Zingiber amreicans) yang mempunyai bentuk relatif kecil dan warna kuning dan rasa pahit dengan lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) dengan ukuran lebih besar dan warna kuning. Keduanya terlihat mirip namun sebenarnya bukan satu jenis tanaman. Meskipun keduanya mempunyai efek meningkatkan nafsu makan.

Jenis lain yaitu lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) dengan rasa khas yang harum dan warna agak putih mempunyai efek berbeda dari spesiesnya. Jenis ini memberikan efek sebagai pelangsing. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan kebenaran bahan tanaman obat untuk menentukan efek terapi yang diinginkan.

Ketepatan dosis penggunaan obat tradisional

Tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik memang tak bisa dikonsumsi sembarangan meskipun bahan ini berasal dari alam yang secara turun temurun dianggap lebih aman. Menggunakan obat tradisional tetap ada dosis yang harus dipatuhi. Kumala Sari, Staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Jember memberikan contoh penggunaan buah mahkota dewa, hanya boleh dikonsumsi dengan perbandingan 1 buah dalam 3 gelas air. Ketika perbandingan ini dipakai pada jenis tanaman herbal lain sperti daun mindi baru berkhasiat jika direbus sebanyak 7 lembar dalam takaran air tertentu.

Fakta ini menepiskan anggapan yang beredar luas bahwa keamanan obat tradisional pun perlu diberikan perhatian dalam pemilihan takaran dosis, sebab akan muncul efek samping yang tidak diinginkan apabila dosis pemberian yang tidak tepat.  Efek samping tanaman obat dapat digambarkan dalam tanaman dringo (Acorus calamus), yang biasa digunakan untuk mengobati stres. Tumbuhan ini memang dapat memberikan efek relaksasi pada otot dan menimbulkan efek sedatif (penenang) terhadap sistem saraf pusat, namun, jika digunakan dalam dosis tinggi malah memberikan efek sebaliknya, yakni meningkatkan aktivitas mental (psikoaktif) bahkan bisa menyebabkan penumpukan cairan di perut, mengakibatkan perubahan aktivitas pada jantung dan hati, serta dapat menimbulkan efek berbahaya pada usus.

Takaran yang tepat dalam penggunaan obat tradisional memang belum banyak didukung oleh data hasil penelitian. Peracikan dengan menggunakan satuan gram kemungkinan dapat mengurangi terjadinya efek yang tidak diharapkan jika dibandingkan dengan metode dosis segenggam atau seruas maupun sejumput.

Ketepatan waktu penggunaan

Keamanan obat tradisional dapat diperoleh dengan memperhatikan waktu ketepatan waktu penggunaan. Bukan hanya obat sintetik yang diwajibkan mematuhi aturan waktu penggunaan obat. Hal ini juga berlaku pada pengobatan tradisional. Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi periode menstruasi. Akan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Ini mengindikasikan bahwa menggunakan obat tradisional yang bukan pada waktunya amatlah berbahaya.

Ketepatan cara penggunaan

Setiap tanaman mempunyai lebih dari satu jenis zat aktif. Jumlah bahahan aktifnya dapt dikatakan banyak. Setiap bahan aktif tersebut tidaklah mempunyai efek yang sama. Sebagai contoh adalah daun Kecubung jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan digunakan sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan/mabuk berat. Oleh karena itu, perilaku sekedar mencoba bahan alam tanpa informasi yang valid mengenai cara penggunaan bukanlah cara yang bagus untuk digunakan sebagai obat.

Ketepatan telaah informasi

Setiap informasi yang didengar, dibaca, dan dilihat secara langsung sebaiknya perlu ditelaah/dianalisa dengan baik sebelum diterapkan sebagai pengobatan. Meskipun perkembangan teknologi informasi yang mudah untuk diakses, setiap petunjuk yang diperoleh sebaiknya dikaji untuk ditindak lanjuti. Kurangnya pengetahuan tentang informasi penggunaan obat tradisional dapat memberikan bahaya bagi penggunanya.

Contohnya, informasi di media massa meyebutkan bahwa biji jarak (Ricinus communis L) mengandung risin yang apabila dimodifikasi dapat berfungsi sebagai obat antikanker. Namun dalam majalah ilmu kefarmasian yang ditulis kumala sari (2006) menyebutkan bahwa senyawa risin mempunyai sifat toksik / racun sehingga jika biji jarak dikonsumsi secara langsung dapat menyebabkan keracunan dan diare. Contoh lainnya adalah tentang pare. Buah rasa pahit ini sering digunakan sebagai lalapan ternyata mengandung khasiat lebih bagi kesehatan.

Pare alias paria (Momordica charantia) kaya mineral nabati, kalsium, dan fosfor, juga karotenoid. Termasuk alpha-momorchorin, beta-momorchorin dan MAP30 (momordica antiviral protein 30) yang bermanfaat sebagai anti HIV-AIDS. Akan tetapi, biji pare juga mengandung triterpenoid yang mempunyai aktivitas anti spermatozoa, sehingga penggunaan biji pare secara tradisional dengan maksud untuk mencegah AIDS dapat mengakibatkan infertilitas/kemandulan pada pria. Sebab dengan mengonsumi pare dalam jangka panjang, baik dalam bentuk jus, lalap atau sayur, dapat mematikan sperma, memicu impotensi, merusak buah zakar dan hormon pria, bahkan berpotensi merusak liver. Dan bagi wanita dapat menyebabkan keguguran jika mengonsumsi buah tanaman ini.

Tanpa penyalahgunaan

Umumnya obat bahan kimia berbahaya akibat dari sering disalah gunakan. Namun, tanaman obat tradisional pun dapat menjadi ancaman jika disalahgunakan. Contoh : Jamu peluntur untuk terlambat bulan sering disalahgunakan
untuk pengguguran kandungan. Resiko yang terjadi adalah bayi lahir cacat, ibu menjadi infertil, terjadi infeksi bahkan kematian. Contoh lain yaitu penambahan bahan kimia obat pada sediaan obat tradisional yang sebagian besar berupa jamu-jamuan yang mengandung bahan-bahan kimia obat (BKO) berbahaya bagi tubuh pemakainya. Bahan-bahan kimia obat tersebut dapat menimbulkan efek negatif di dalam tubuh pemakainya jika digunakan dalam jumlah banyak.

Ketepatan pemilihan obat

untuk indikasi tertentu, satu jenis tanaman dapat ditemukan beberapa zat aktif yang berkhasiat sebagai obat. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang timbul harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman obat yang akan digunakan dalam terapi. Contoh, daun Tapak dara mengandung alkaloid yang bermanfaat
untuk pengobatan diabetes. Akan tetapi daun Tapak dara juga mengandung vincristin dan vinblastin yang dapat menyebabkan penurunan leukosit (sel-sel darah putih) hingga berpotensi menyebabkan rentan terhadap infeksi.

Menggunakan obat tradisional pun ada tidak terbebas dari efek samping. Setiap bahan alam akan bersifat merugikan apabila topik pembahasan diatas kurang diperhatikan dalam menggunakan tanaman herbal. Untuk itu, Apoteker Anda menyampaikan dan menyarankan kepada masyarakat indonesia agar cermat dan bijak dalam memilih obat untuk penyakit yang dideritanya. Sebaiknya sebelum memulai pengobatan herbal, konsultasikanlah rencana tersebut dengan apoteker. Anda dapat menanyakan kepada apoteker di kota anda, atau menghubungi Apoteker Anda perihal rencana anda.

Sumber: Kumala Sari, 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional dengan Pertimbangan Manfaat dan Keamanan. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. III, No.1, April 2006

Tinggalkan komentar