Meninggal Karena Minum Obat, yang Disalahkan Siapa?

Meninggal Karena Minum Obat, yang Disalahkan Siapa?

Meninggal karena obat, siapa yang paling bertanggung jawab? Menggunakan obat, sudah seharusnya sangat berhati-hati. Jika digunakan dengan tepat, maka akan memberikan kesembuhan. Sebaliknya jika dipakai dengan cara yang salah akan menambah beban penyakit. Itulah kata bijak untuk pengguna obat. Bukan jumlah sedikit masalah yang ditimbulkan akibat penggunaan obat. Sekalipun obat mempunyai efek superior dalam mengubah kehidupan manusia ke arah yang lebih baik, keamanan tetap menjadi bagian terpenting dalam penggunaan obat.

Jika kita menelusuri sejarah, agak sulit untuk menghitung berapa manusia yang kehilangan nyawa akibat penggunaan obat. Duka tersebut dapat dipicu karena penyalahgunaan obat tanpa pengawasan, dan juga penggunaan obat yang tidak tepat. Sehingga 2 faktor tersebut dapat diakibatkan karena 2 sumber, yaitu pemakai obat itu sendiri, dan pihak yang bertanggung jawab dalam hal pengobatan.

Kasus Kejadian Meninggal Karena Obat

dirangkum dari tribunnews.com Tahun 2017, bulan februari, kejadian meninggal karena minum obat di indonesia pernah terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Korban mengonsumsi obat kuat dan kuat dugaan karena over dosis. Sebulan sebelumnya, tepatnya Januari, siswa SMP di Belitung dilaporkan meninggal akibat konsumsi obat batuk sachet 10 bungkus. Efek sesak nafas yang muncul setelah mengonsumsi obat tersebut membawanya pada petaka. Awal september, seorang wanita meninggal akibat mengonsumsi obat kuat di daerah mojokerto. Tidak cukup 1 minggu setelahnya, digegerkan kematian 2 pelajar dan puluhan lainnya mengalami kejang berat dan gangguan mental akibat mengonsumsi obat jenis PCC.

Lampung, Juli 2016 seorang balita meninggal ketika dirawat di rumah sakit akibat dugaan salah memberi obat. Meninggal karena obat di bulan Januari 2016, bayi 11 bulan meninggal usai disuntik di sebuah rumah sakit di Mamuju Utara. April 2016, 3 pasien meninggal di rumah sakit swasta wilayah lampung setelah dilakukan operasi, dan diduga meninggal karena obat pula. Februari 2015, 2 pasien meninggal setelah dioperasi di salah satu rumah sakit swasta terkenal di jakarta dengan dugaan salah menggunakan obat.

Siapakah yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini?

Jika kita mengamati lebih dalam, terdapat 4 unsur yang berkaitan terhadap penggunaan obat. Unsur tersebut adalah pemakai obat, petugas kesehatan, produsen farmasi dan regulasi pemerintah. Menyalahkan salah satunya bukanlah suatu jawaban yang tepat dan menyelesaikan masalah. menggali benang merah dari akar permasalahan merupakan langkah yang harus ditempuh agar dapat memberikan keterkaitan positif dalam sistem distribusi obat.

Pemakai obat

Dalam kasus penyalahgunaan obat ataupun bukan, tidak serta merta harus menyalahkan pemakai karena keinginannya menggunakan obat. Sebelum obat sampai ke pemakai obat, terdapat sistem panjang yang dilalui setiap obat mulai dari proses produksi, distribusi, penyerahan, dan aturan yang menyertainya. Adanya sistem tersebut tidak lain untuk memberikan jaminan keamanan dan kualitas preparat yang terdistribusi. Ketika terdapat cela berpotensi untuk terjadi kesalahan baik disengaja atau tidak, dari situlah dimulai munculnya reaksi obat yang merugikan, termasuk kejadian tidak diinginkan.

Petugas kesehatan

Dalam melaksanakan tugasnya, setiap tenaga medis: dokter, apoteker, bidan, perawat, dan lainnya selalu dibekali dengan ilmu pengobatan. Dalam hal pelayanan obat mengacu pada pelaksanaan di lapangan, petugas kesehatan tersebut mempunyai kemudahan dalam akses pendistribusian obat khususnya ke tangan pemakai obat. Namun, apakah tindakan tersebut sudah sesuai dengan regulasi, keprofesian, kompetensi bidang, tugas dan tanggung jawab masing-masing? ataukah memang sediaan farmasi hendaknya dikelolah sepenuhnya pada satu keprofesian saja? dan profesi lain pun bertanggung jawab sepenuhnya pada bidangnya masing-masing sehingga konflik kepentingan tidak terjadi, yang pada akhirnya akan memberikan pengaruh positif pada proses pendistribusian obat.

Produsen Farmasi

Produsen farmasi mengambil tanggung jawab pada produksi obat dan penyediaan informasi yang valid berbasis bukti ilmiah terkait sediaan farmasi. Untuk mendukung kelangsungan bisnis yang terus tumbuh, tentu mereka telah merancang dan melaksanakan strategi untuk memimpin pasar sesuai dengan kategori produk. Kita mengetahui bahwa tujuan utama adanya aktivitas produksi ini tidak lain untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat indonesia. Disisi lain, Representative perusahaan dalam men-deliver pengetahuan produk masih dipengaruhi oleh tekanan untuk mencapai target tertentu. Sehingga kita tidak bisa menjamin sepenuhnya aktivitas yang terjadi ketika proses take and give product information ini masih dalam batas regulasi yang ada.

Regulasi Pemerintah

Memperoleh obat sama mudahnya dengan membeli sebuah permen. Tidak sepantasnya membandingkan sebuah permen dengan obat, namun kenyataannya ketika menemukan permen di warung kecil, disampingnya juga terdapat obat yang dijual. Siapakah sebenarnya yang berhak mendistribusikan obat? Paracetamol adalah obat bebas, dan bukan berarti bebas dari efek samping dan over dosis. Sehingga ketika membeli obat ini, haruslah orang yang mempunyai pengetahuan tentang obat yang harus mendistribusikannya.

Selain itu, proses proses distribusi obat apakah tanggung jawab semua profesi kesehatan? Sebuah klinik yang tidak mempunyai apoteker, puskesmas yang tanpa petugas dokter, apotik yang hanya diisi oleh pemilik saham apotek, tempat praktek yang didalamnya terdapat obat hanya diisi oleh 1 petugas kesehatan saja. Contoh tersebut membuktikan bahwa terdapat pengambilan peran kompetensi yang seharusnya diisi oleh petugas yang berhak. Ketika menyangkut kondisi darurat atau ketersediaan SDM yang tidak memadai menjadi alasan perebutan kepentingan, Nyawa pasien tidak bisa dikembalikan hanya dengan memperbaiki kesalahan karena alasan SDM yang tidak tersedia.

Menggunakan obat dengan bijak merupakan harapan untuk seluruh masyarakat indonesia. Sekalipun saat ini belum sepenuhnya merata pemahaman terkait obat, namun upaya perbaikan akan terus dilakukan. Kita tidak ingin mempermalukan lambang negara hanya karena membunuh manusia dengan obat. Bendera Indonesia pun dapat berkibar di negeri seberang jika sistem pengobatan dunia sudah berkiblat ke arah indonesia.

Cermat dan Bijaklah dalam menggunakan obat, salam!

Penulis: Samir Jalali, S.Farm.,Apt

Tinggalkan komentar