Studi Kasus Kesalahan dalam Peresepan Obat Puyer

0
709
views
Studi kasus permasalahan dalam peresepan obat puyer

Studi Kasus Kesalahan dalam Peresepan Obat Puyer. Praktek kefarmasian berkelanjutan memberikan pelayanan dalam hal peracikan obat rasional sudah menjadi kewajiban. Namun, terkadang dalam praktek keseharian sering menemukan resep terkandung sejumlah obat yang akan diracik apabila diamati dengan seksama, terdapat kejanggalan apabila dilakukan peracikan. Sehingga kasus seperti dapat masuk dalam kategori kesalahan dalam peresepan obat.

Dampaknya apabila tenaga kefarmasian kurang teliti dalam hal melakukan skrining dan memahami setiap obat dalam resep dokter akan memberikan kerugian yang bisa berdampak fatal pada pasien, apalagi jika pasiennya adalah anak-anak.

Permasalahan dalam peresepan obat racikan

Permasalahan yang muncul akibat Human Error ini tentu dapat diatasi dengan meningkatkan pemahaman terkait obat serta kerjasama yang baik dan berkelanjutan antara dokter dengan apoteker. Contoh kesalahan dalam peresepan obat puyer yang sering terjadi dapat dilihat sebagai berikut:

Komposisi obat dalam puyer tidak rasional

Perhatikan contoh resep obat berikut ini:

resep obat puyer tidak rasional

Berdasarkan resep diatas dapat diketahui bahwa resep tersebut memerintahkan kepada apoteker untuk membuat obat dalam bentuk puyer. Apabila kita amati dengan baik pada setiap obat, terdapat kejanggalan didalam resep tersebut. Longsef merupakan obat merek dagang dengan kandungan Cefadroxil.

Kita ketahui bersama bahwa Cefadroxil merupakan antibiotik betalaktam golongan sefalosporin generasi kedua. Hal yang sama pada penggunaan antibiotik untuk peracikan bersama obat dengan indikasi yang berbeda bukanlah cara yang benar. Salah satu risiko penggunaan antibiotik dalam puyer potensi resistensi obat sangat besar kemungkinan terjadi.

Ada obat yang aturan penggunaannya berbeda-beda

Lihat resep berikut ini:

penulisan resep yang salah

Masih dalam bentuk racikan, obat diatas kurang tepat apabila dilakukan peracikan. Alasan ini dikarenakan masing-masing obat mempunyai waktu penggunaan yang berbeda-beda. Sanexon adalah obat merek dagang dengan kandungan methylprednisolone.

Jika ditinjau dari waktu penggunaan masing-masing obat, Sanexon digunakan setelah makan, Piroxicam saat atau sesudah makan, dan Omeprazole harus diminum sebelum makan.

Sehingga solusi yang tepat adalah Omeprazol hendaknya dipisahkan dan diminum sebelum makan. Kemudian 2 jam berikutnya pasien makan dan segera minum obat sanexon serta piroxicam.

Resep puyer mengandung bahan obat yang tidak boleh digunakan bersamaan

Amati resep berikut ini:

peresepan obat puyer yang salah

Berdasarkan analisa resep diatas, New Diatab mengandung attapulgite yaitu suatu absorben menyerap toksin atau produk bakteri yang ada di dalam saluran pencernaan. Ketika digunakan bersama dengan Cotrimoxazol, maka kemampuan New Diatab akan menyerap cotrimoxazol. Dampaknya pada cotrimoxazol sebagai antibakteri menjadi tidak efektif.

Untuk mengatasi permasalahan dalam resep diatas, solusinya adalah New Diatab
diminum sebelum makan, selang 1-2 jam pasien makan kemudian minum Cotrimoxazole.

Perlu diketahui bahwa dosis New Diatab untuk anak 6-12 tahun adalah 1 tablet setiap setelah BAB. Maksimal 6 tablet/hari. Tablet jangan digunakan pada anak-anak umur 3-6
tahun, kecuali dengan resep dokter. Dosis Cotrimoxazol untuk anak usia 6 bulan – 6 tahun : 240 mg, 2 kali sehari dab diberikan sesudah makan.

Ada sediaan tablet yang tidak boleh diracik atau dihancurkan

Amati resep berikut ini

permasalahan dalam resep puyer

Berdasarkan resep diatas, trental adalah tablet salut enteric dengan kandungan Pentoxifylline yang harus diminum dalam keadaan utuh. Tablet ini sama sekali tidak boleh dihancurkan, sebab lokasi kerja obat yang diinginkan berada di usus halus. Risiko apabila obat ini digerus akan memberikan sifat iritasi pada lambung. Dosis obat trental 3 x sehari 1 tablet diminum sesudah makan.

Kemudian tablet Bio ATP juga tidak boleh dihancurkan. Sebab kerusakan akibat pengaruh cahaya dan kelembaban berpotensi terjadi. Dosis Bio ATP 3 x sehari 1 tablet. Selanjutnya obat Acetosal dosis 100 mg dalam resep pemberiannya bersama Trental berfungsi untuk mengatasi gangguan sirkulasi darah. Sehingga pemberian acetosal dalam resep ini dimaksudkan sebagai antitrombosis/antiplatelet/pengencer darah. Dosis Acetosal sebagai antitrombosis 1 x sehari 80-160 mg. Sehingga dosis acetosal pada resep ini diusulkan menjadi 1 x sehari 100 mg.

Obat dengan kandungan zat aktif yang sama

Perhatikan resep dibawah ini:

kesalahan penulisan resep obat racikan

Pada resep diatas terdapat dua obat dengan nama dagang yang berbeda tetapi mengandung zat aktif yang sama yaitu: Unalium tablet mengandung zat aktif Flunarizine dihydrochloride 5 mg dan 10 mg, bila dalam resep yang dimaksud tablet 5 mg (2/3 x 5 mg = 3,33 mg dan bila kadar 10 mg (2/3 tablet x 10 mg = 6,67 mg)

Kemudian tablet kedua Sibelium tablet mengandung Flunarizine dihydrochloride ada yang kadarnya 5 mg ada juga yang kadarnya 10 mg. Bila dalam resep tablet Sibelium yang dimaksud tablet kadar 5 mg maka 1/3 tab x 5 mg = 1,67 mg; dan bila yang dimaksud tablet tablet Sibelium 10 mg maka 1/3 tab x 10 =
3,33 mg.  Selanjutnya dosis Flunarizin 10 mg/hari diberikan dimalam hari.

Sehingga sebagai kesimpulan:

  • Bila dalam resep yang dimaksud tablet Unalium dan Sibelium 5 mg maka: Dosis Flunarizine HCl 1 x pakai = 3,33 mg + 1,67 mg = 5 mg Dosis Flunarizine HCl sehari = (3,33 mg + 1,67 mg) x 3 = 15 mg > 10 mg
  • Bila dalam resep yang dimaksud tablet Unalium dan Sibelium 10 mg maka: Dosis sekali pakai Flunarizine HCl = 1 x pakai = 6,67 mg + 3,33 mg = 10
    mg. dan dosis Flunarizine HCl sehari = (6,67 mg + 3,33 mg) x 3 = 30 mg > 10 mg.

Oleh karena itu harus diusulkan tablet Unalium dan Sibelium diberikan yang kadarnya 5 mg dengan dosis 1 x sehari kapsul diminum malam hari, yang dalam perhitungan dosis flunarizin HCl 15 mg masih lebih besar dari 10 mg.

Lihat juga: Cara meracik Puyer yang Benar

Meskipun dalam hal ini terkadang terjadi human error melalui kesalahan penulisan resep, namun sebagai apoteker handal hendaknya melakukan koordinasi yang baik dengan dokter penulis resep tanpa mengabaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing profesi. Selain itu, keselamatan pasien merupakan prioritas utama yang harus diberikan pelayanan prima.

Baca juga: Solusi Menebus Obat Resep Dokter yang Habis di Apotik

Sumber: Pusdik SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

 

Saya adalah bagian dari layanan Apoteker indonesia. Menjadi penulis di Apotekeranda.com adalah satu kebanggaan karena dapat menyebarkan informasi kesehatan kepada seluruh masyarakat indonesia. Jika anda memiliki pertanyaan seputar obat, silahkan cantumkan melalui komentar, atau masuk di halaman Konsultasi obat. kami senantiasa akan melayani anda sepenuh hati. Terhubung bersama saya dengan follow instagram @samerjalali
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here